Akhir-Akhir ini aku baru saja membaca sebuah buku mengenai Ukhuwah. Ada beberapa kalimat yang paling membuat aku sangat menarik dan pastinya akan selalu menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam hidupku... Begini kalimat yang tertera di dalam buku tersebut: "dalam hubungan-hubungan yang kita jalin di kehidupan, setiap orang adalah guru kita. Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru-guru kita. Bukan karena mereka orang-orang yang bijaksana. Melainkan karena kitalah yang sedang belajar untuk bijaksana."
Setiap orang yang kita jumpain dimuka bumi ini adalah guru bagi kita yang mana kalau kita sadari mereka secara tidak langsung memberikan pelajaran-pelajaran mengenai kehidupan yang berguna untuk masa depan kita nanti baik itu pelajaran yang menyenangkan ataupun pelajaran yang menyakitkan tinggal kita bagaimana menyikapi pelajaran yang mereka berikan apakah kita bisa menerimanya atau tidak karena menurutku merekalah guru-guru kita yang sebenarnya bukan guru-guru yang ada di SD, SMP ataupun SMA.Guru seperti merekalah yang akan membuat hidup kita menjadi bijak dalam menjalani kehidupan, menjadi kuat dan menjadi semakin bermakna.
Kamis, 07 Agustus 2014
Senin, 14 Juli 2014
Insan dan Diri
Diri...
Seorang insan ingin bersahabat denganmu
Tetapi engkau lebih memilih banyak insan
Mengapa engkau lebih memilih banyak insan ketimbang seorang insan padahal itu yang paling setia denganmu?
Diri...
Seorang insan tersebut sering menangisimu, bersedih hati karena dia ingin sekali bersahabat denganmu
Doa selalu dipanjatkan kepada Rabbnya untukmu agar bisa selaras denganmu
Diri...
Seorang insan sering duduk, terdiam, merenungi agar bisa bersahabat denganmu
Tetapi kamu malah asik dengan banyak insan
Diri...
Bersahabatlah dengan seorang insan tersebut
Terimalah seorang insan tersebut dengan segala keterbatasan dan kekurangannya
Kalian bersahabat dunia ini akan damai dan kalian bisa pancarkan senyum kebahagiaan untuk banyak insan
Seorang insan ingin bersahabat denganmu
Tetapi engkau lebih memilih banyak insan
Mengapa engkau lebih memilih banyak insan ketimbang seorang insan padahal itu yang paling setia denganmu?
Diri...
Seorang insan tersebut sering menangisimu, bersedih hati karena dia ingin sekali bersahabat denganmu
Doa selalu dipanjatkan kepada Rabbnya untukmu agar bisa selaras denganmu
Diri...
Seorang insan sering duduk, terdiam, merenungi agar bisa bersahabat denganmu
Tetapi kamu malah asik dengan banyak insan
Diri...
Bersahabatlah dengan seorang insan tersebut
Terimalah seorang insan tersebut dengan segala keterbatasan dan kekurangannya
Kalian bersahabat dunia ini akan damai dan kalian bisa pancarkan senyum kebahagiaan untuk banyak insan
Selasa, 10 Desember 2013
Pemrosesan Kognitif
Prinsip belajar dari teori pemrosesan informasi:
1. Pemrosesan informasi bukan konseptualisasi dari seorang teoritisi saja. Karenanya ada banyak macam deskripsi tentang cara memori jangka panjang menyimpan informasi.
2. Karena dasar dari teori ini adalah pemrosesan informasi dan bukan belajar, teori ini tidak dapat menspesifikasikan hasil belajar. Studi kognisi dasar yang berbeda menilai aktivitas yang berbeda, dari mempelajari kosakata baru sampai belajar cara meringkas informasi. Komponen esensial dari belajar adalah pengorganisasian informasi yang akan dipelajari, pengetahuan sebelumnya yang sudah dikuasai pemelajar, dan proses yang melibatkan pemahaman, pengertian, serta menyimpan dan mengambil kembali informasi.
Asumsi dasar dari teori pemrosesan informasi:
Dua asumsi pokok mendukung riset pemrosesan informasi. Asumsi itu adalah:
1. Sistem memori adalah pengolah informasi yang aktif dan terorganisasi, dan
2. Pengetahuan sebelumnya berperan penting dalam belajar.
Terkait dengan asumsi dasar ini adalah keyakinan tentang:
a. Hakikat sistem memori manusia
b. Cara-cara bagaimana butir-buitr pengetahuan dilambangkan dalam memori jangka panjang
c. Organisasi pengetahuan dalam memori jangka panjang
Kerangka belajar terdiri dari:
1. Pengetahuan sebelumnya yang dimiliki pemelajar, baik itu tersembunyi maupun konseptual (isi pengetahuan dan diskursus)
2. Sifat dan penataan dari informasi yang akan dipelajari.
Pengetahuan pemelajar berfungsi sebagai kerangka untuk mengidentifikasi informasi yang datang dan memengaruhi inferensi pemelajar tentang informasi baru itu. Pengetahuan ekstensif juga dapat a). memperkuat kapasitas memori kerja untuk mengodekan informasi dalam kelompok besar, dan b). menaikkan kecepatan pemrosesan. Dua pengorganisasian materi yang akan dipelajari secara formal adalah presentasi guru dan pemberian teks.
Komponen utama dalam pembelajaran adalah: a). menstrukturisasi kerangka belajar; b). memfasilitasi perhatian pemelajar; c). memfasilitasi pengkodean informasi, dan d). mengajari siswa strategi mengonstruksi makna.
Peran pembelajaran adalah: a). memberi kontribusi pada bagaimana pengetahuan pemelajar berinteraksi dengan belajar baru, dan b). menstruktur informasi yang akan dipelajari dengan cara yang bermakna.
Selasa, 19 November 2013
Kondisi Belajar Robert Gagne
A. Prinsip Belajar
Gagne (1972,1977) berpendapat bahwa kunci untuk mengembangkan teori yang komprehensif adalah memulai dengan analisis berbagai macam kinerja dan keterampilan yang dilakukan oleh manusia.
B. Asumsi Dasar
a. Belajar dan pertumbuhan tidak boleh disamakan satu sama lain, alasannya faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan terutama ditentukan secara genetik. Faktor yang mempengaruhi belajar terutama ditentukan oleh kejadian dalam lingkungan pemelajar.
b.Belajar adalah faktor kausal penting dalam perkembangan individual, alasannya model yang diusulkan Arnold Gesset, bahwa pertumbuhan tubuh dan mental terkait erat, adalah tidak akurat
c. Banyak hasil belajar manusia digeneralisasikan ke berbagai macam situasi, alasannya belajar bukan akuisisi kepingan-kepingan informasi secara terpisah-pisah. Penjumlahan, misalnya berlaku untuk situasi seperti penyeimbangan neraca, menghitung pajak, dan menyusun anggaran.
d. Belajar manusia adalah kumulatif, belajar keterampilan yang kompleks didasarkan pada belajar sebelumnya, alasannya seseorang tidak harus mempelajari seperangkat respons baru secara lengkap di banyak situasi. Misalnya, keterampilan menjumlah angka memberi kontribusi untuk kemampuan mambagi
e. Belajar bukan proses tunggal, alasannya Model S-R dapat menjelaskan asosiasi sederhana, tetapi tidak dapat menjelaskan belajar keterampilan yang kompleks. Juga, belajar membaca atau mengucapkan bahasa asing bukan hasil dari wawasan (insight)
C. Definisi Belajar
a. Persyaratan untuk Definisi yang Memadai
Fokus yang memaksakan semua belajar ke dalam satu deskripsi saja adalah salah satu kesalahan dalam pengembangan prinsip belajar sebelumnya. Salah satu masalahnya adalah belajar asosiasi kata atau pemecahan masalah yang dideskripsikan Psikolog Gestalt tidak dapat direduksi dari satu aspek ke aspek lainnya.
b. Konsep Kapabilitas
Jika belajar manusia memang proses yang kompleks dan memiliki banyak sisi (multifaceted), bagaimana ia akan didefinisikan? pertama, belajar adalah mekanisme yang membuat individu menjadi berfungsi sebagai anggota masyarakat secara kompeten (Gagne, 1977). Ketika didefinsikan secara formal, belajar menghasilkan berbagai disposisi yang dipertahankan yang tercermin dalam berbagai macam perilaku yang berbeda. Mereka adalah hasil dari belajar yang oleh Gagne disebut sebagai kapabilitas. Menurut Gagne, Kapabilitas terdiri dari komponen mental (disposisi yang dipertahankan) dan komponen perilaku (kinerja). Kedua, kapabilitas ini didapat oleh manusia dari: a. stimulasi dari lingkungan, dan b. pemrosesan kognitif yang dilakukan oleh pemelajar yang mengubah stimulasi dari lingkungan menjadi kapabilitas baru.
Senin, 28 Oktober 2013
Testimoni Proses UTS berdasarkan Teori Belajar dan Teori Kreativitas
Testimoni saya terhadap proses UTS ini adalah dengan proses UTS seperti banyak pembelajaran-pembelajaran yang saya dapatkan. Pembelajara yang saya dapatkan adalah harus bisa memperkirakan waktu yang digunakan dan harus bisa menghargai orang lain. Dengan begitu saya bisa mengubah perilaku saya ketika pembelajaran tersebut saya alami. Karena menurut salah satu asumsi kondisi berpenguat Skinner bahwa belajar adalah perubahan perilaku/behavioral. Pada asumsi kedua Skinner mengatakan bahwa perubahan perilaku secara fungsional berkaitan dengan perubahan dalam lingkungan atau kondisi. Pada saat awal proses UTS ini saya sedikit nyantai karena saya berpikir waktu masih lama tetapi ketika waktu semakin dekat, saya pun semakin terdesak dan saya menjadi panik ketika soal berikutnya belum dikirim ditambah lagi pada saat itu dosen menjadi kecewa sama kami karena waktu yang diberikan lama sedangkan semua mengerjakan diwaktu yang berdekatan. Disitu terlihat bahwa perilaku saya pada saat awal waktu UTS saya masih santai tetapi ketika kondisi menyuruh saya untuk menjawab soal UTS, saya perilaku saya jadi berubah ditambah lagi dosen pengampu saya kecewa karena masalah waktu. Tetapi proses UTS ini sangatlah bermanfaat bagi saya. Selain itu, menurut saya proses UTS seperti telah membuat saya mempunyai pengalaman dan wawasan yang baru. Proses UTS seperti sangatlah kreatif karena beda dari yang lain. Menurut Conny R semiawan (2009:44) kreativitas merupakan modifikasi sesuatu yang sudah ada menjadi konsep baru. Nah, UTS ini sudah ada dari dulu tetapi biasanya dilakukan dalam dengan paper and pencil dan email sudah ada dari dulu. Ketika UTS dan email dikombinasikan maka ini menjadi sesuatu yang kreatif karena mengkombinasikan keduanya antara UTS dan email yang menurut saya kreatif karena baru pertama kali saya lakukan. Selain itu daya kreatif saya pun juga diuji di mana saya harus mengaitkan teori satu dengan jawaban saya. Saya menyadari di proses UTS ini saya suka menunda-nunda waktu sehingga saya mengerjakannya dekat dengan waktu deadline. Selain itu proses UTS lumayan efisien dikarenakan dalam pengerjaannya bisa di mana saja tetapi saya harus mencari jaringan yang lancar untuk membuka email. Saya sangat berterima kasih karena dengan proses seperti ini, wawasan dan pengalamn saya bertambah.
Selasa, 22 Oktober 2013
Kultural Historis Lev S. Vygotsky
PRINSIP PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS
Asumsi Dasar
Ada tiga bidang yang membentuk landasan analisis Vygotsky terhadap perkembangan kapabilitas mental manusia. Bidang itu adalah : hakikat kecerdasan manusia, dua deret baris perkembangan psikologis yang berbeda, psikologis yang berbeda, biologis, dan kultural historis dan desain metode eksperimental untuk investigasi proses psikologis yang dinamis.
Hakikat Kecerdasan Manusia
Deskripsi Vygotsky tentang sifat kecerdasan manusia mencakup empat topik yang saling terkait. Merka adalah : perbedaan antara hewan dan manusia; landasan filosofis yang membentuk basis teorinya; konsep perangkat psikologis; dan pengaruh sistem simbol (perangkat psikologis) terhadap perkembangan manusia.
Perbedaan Hewan/ Manusia dalam Kegiatan Mental
Vygotsky mengambil isu ini dengan pendekatan pada kognisi manusia. Dia menunjukkan bahwa "manusia bukan karung kulit yang berisi refleks". Dan model stimulus respons merefleksikan asosiasi yang hanya terjadi berbasiskan pada "kebetulan eksternal semata-mata pada waktunya"
Metode Eksperimental-Genetik (Developmental)
Vygotsky mendeskripsikan proses perkembangan proses perkembangan kognitif sebagai proses yang kompleks dan terus berubah, namun para peneliti tidak meneliti proses ini. Sebaliknya mereka hanya mengimplementasikan satu model- situasi stimulus-respons. Meski para psikolog telah mempelajari konstelasi stimuli yang berbeda dab beragam reaksi, mereka belum mengambil langkah fundamental untuk melampaui model tersebut.
Asumsi Dasar
Ada tiga bidang yang membentuk landasan analisis Vygotsky terhadap perkembangan kapabilitas mental manusia. Bidang itu adalah : hakikat kecerdasan manusia, dua deret baris perkembangan psikologis yang berbeda, psikologis yang berbeda, biologis, dan kultural historis dan desain metode eksperimental untuk investigasi proses psikologis yang dinamis.
Hakikat Kecerdasan Manusia
Deskripsi Vygotsky tentang sifat kecerdasan manusia mencakup empat topik yang saling terkait. Merka adalah : perbedaan antara hewan dan manusia; landasan filosofis yang membentuk basis teorinya; konsep perangkat psikologis; dan pengaruh sistem simbol (perangkat psikologis) terhadap perkembangan manusia.
Perbedaan Hewan/ Manusia dalam Kegiatan Mental
Vygotsky mengambil isu ini dengan pendekatan pada kognisi manusia. Dia menunjukkan bahwa "manusia bukan karung kulit yang berisi refleks". Dan model stimulus respons merefleksikan asosiasi yang hanya terjadi berbasiskan pada "kebetulan eksternal semata-mata pada waktunya"
Metode Eksperimental-Genetik (Developmental)
Vygotsky mendeskripsikan proses perkembangan proses perkembangan kognitif sebagai proses yang kompleks dan terus berubah, namun para peneliti tidak meneliti proses ini. Sebaliknya mereka hanya mengimplementasikan satu model- situasi stimulus-respons. Meski para psikolog telah mempelajari konstelasi stimuli yang berbeda dab beragam reaksi, mereka belum mengambil langkah fundamental untuk melampaui model tersebut.
Selasa, 01 Oktober 2013
Teori Proses Belajar
Prinsip - Prinsip Belajar
Seperti John Watson (1913), Skinner percaya bahwa psikologi dapat menjadi sains hanya melalui studi perilaku. Berbeda dengan Watson, Skinner mempelajari jenis perilaku yang lain, perilaku yang tidak secara otomatis dipicu oleh stimulus tertentu.
Definisi Belajar
1. Asumsi : -Belajar adalah perubahan perilaku/ behavioral
-Perubahan perilaku secara fungsional berkaitan dengan perubahan dalam lingkungan atau kondisi
-Hukum relasi antara perilaku dan lingkungan dapat ditemukan hanya jika sifat behavioral dan kondisi eksperimental didefinisikan dalam istilah fisik dan diamati di bawah kondisi yang terkontrol.
-Data dari studi eksperimental atas perilaku adalah satu-satunya sumber informasi tentang penyebab perilaku yang dapat diterima
Dasar rasional : Agar dapat disebut sains, psikologi harus :
(a) mempelajari kejadian yang dapat diamati dan dapat diukur
(b) dilakukan di dalam kondisi yang dikontrol dengan cermat
(c) menentukan kejadian lingkungan yang merupakan penyebab
2. Asumsi : Perilaku subjek individual adalah sumber data yang tepat
Dasar rasional : Relasi yang tepat hanya dapat diungkap melalui riset atas subjek individual
3. Asumsi : Dinamika interkasi organisme dengan lingkungan adalah untuk semua spesies
Dasar rasional : Karena tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kejadian yang tampak memperkuat atau melemahkan frekuensi respons (perubahan behavioral), maka organisme tertentu (hewan atau manusia) bukan faktor utama.
Skinner (1950) secara spesifik mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku. "Belajar bukan melakukan- belajar adalah mengubah apa yang kita lakukan" (Skinner, 1989a, h. 15).
Komponen Belajar
Skinner (1953, 1963b) mengidentifikasi riset Thorndike sebagai basis untuk memahami perubahan perilaku. Thorndike telah mengidentifikasi tiga komponen penting dari perubahan perilaku (Skinner, 1953). Yakni: a. kesempatan di mana perilaku terjadi; b. perilaku itu sendiri; c. konsekuensi dari perilaku (Skinner, 1953; 1968, h.4). Yakni respons sering diberikan pada lingkungan untuk menghasilkan jenis konsekuensi yang berbeda, dan konsekuensi tertentu menimbulkan pengulangan respons. Skinner (1935) menamakan respons ini sebagai berpenguat.
Salah satu kekurangan dalam analisis Thorndike adalah dia menyebut konsekuensi yang menyebabkan peningkatan perilaku itu sebagai imbalan (reward), masalahnya adalah imbalan itu mengimplikasikan ganjaran untuk sesuatu yang dilakukan (Skinner, 1989b, h.92) atau kompensasi yang mengganti pengorbanan tertentu (Skinner, 1963b, h.505).
Skinner mengganti istilah imbalan dengan istilah konsekuensi yang menguatkan (reinforcing consequences) dan penguatan (reinforcement), dan mendefinisikannya dalam makna kaitannya dengan perilaku. Secara khusus, penguatan adalah setiap konsekuensi behavioral yang memperkuat perilaku; yaitu, penguat meningkatkan frekuensi respons. Kejadian yang menguatkan adalah hasil yang diproduksi oleh berpenguat yang mengubah organisme sedemikian rupa sehingga perilaku itu diulang, Skinner mengidentifikasi tiga komponen belajar sebagai stimulus diskriminatif (SD), respons (R) dan stimulus penguat (Sreinf) dan sekuensi peristiwa belajar adalah: (SD)-(R)-(Sreinf).
Seperti John Watson (1913), Skinner percaya bahwa psikologi dapat menjadi sains hanya melalui studi perilaku. Berbeda dengan Watson, Skinner mempelajari jenis perilaku yang lain, perilaku yang tidak secara otomatis dipicu oleh stimulus tertentu.
Definisi Belajar
1. Asumsi : -Belajar adalah perubahan perilaku/ behavioral
-Perubahan perilaku secara fungsional berkaitan dengan perubahan dalam lingkungan atau kondisi
-Hukum relasi antara perilaku dan lingkungan dapat ditemukan hanya jika sifat behavioral dan kondisi eksperimental didefinisikan dalam istilah fisik dan diamati di bawah kondisi yang terkontrol.
-Data dari studi eksperimental atas perilaku adalah satu-satunya sumber informasi tentang penyebab perilaku yang dapat diterima
Dasar rasional : Agar dapat disebut sains, psikologi harus :
(a) mempelajari kejadian yang dapat diamati dan dapat diukur
(b) dilakukan di dalam kondisi yang dikontrol dengan cermat
(c) menentukan kejadian lingkungan yang merupakan penyebab
2. Asumsi : Perilaku subjek individual adalah sumber data yang tepat
Dasar rasional : Relasi yang tepat hanya dapat diungkap melalui riset atas subjek individual
3. Asumsi : Dinamika interkasi organisme dengan lingkungan adalah untuk semua spesies
Dasar rasional : Karena tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kejadian yang tampak memperkuat atau melemahkan frekuensi respons (perubahan behavioral), maka organisme tertentu (hewan atau manusia) bukan faktor utama.
Skinner (1950) secara spesifik mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku. "Belajar bukan melakukan- belajar adalah mengubah apa yang kita lakukan" (Skinner, 1989a, h. 15).
Komponen Belajar
Skinner (1953, 1963b) mengidentifikasi riset Thorndike sebagai basis untuk memahami perubahan perilaku. Thorndike telah mengidentifikasi tiga komponen penting dari perubahan perilaku (Skinner, 1953). Yakni: a. kesempatan di mana perilaku terjadi; b. perilaku itu sendiri; c. konsekuensi dari perilaku (Skinner, 1953; 1968, h.4). Yakni respons sering diberikan pada lingkungan untuk menghasilkan jenis konsekuensi yang berbeda, dan konsekuensi tertentu menimbulkan pengulangan respons. Skinner (1935) menamakan respons ini sebagai berpenguat.
Salah satu kekurangan dalam analisis Thorndike adalah dia menyebut konsekuensi yang menyebabkan peningkatan perilaku itu sebagai imbalan (reward), masalahnya adalah imbalan itu mengimplikasikan ganjaran untuk sesuatu yang dilakukan (Skinner, 1989b, h.92) atau kompensasi yang mengganti pengorbanan tertentu (Skinner, 1963b, h.505).
Skinner mengganti istilah imbalan dengan istilah konsekuensi yang menguatkan (reinforcing consequences) dan penguatan (reinforcement), dan mendefinisikannya dalam makna kaitannya dengan perilaku. Secara khusus, penguatan adalah setiap konsekuensi behavioral yang memperkuat perilaku; yaitu, penguat meningkatkan frekuensi respons. Kejadian yang menguatkan adalah hasil yang diproduksi oleh berpenguat yang mengubah organisme sedemikian rupa sehingga perilaku itu diulang, Skinner mengidentifikasi tiga komponen belajar sebagai stimulus diskriminatif (SD), respons (R) dan stimulus penguat (Sreinf) dan sekuensi peristiwa belajar adalah: (SD)-(R)-(Sreinf).
Langganan:
Postingan (Atom)